Misteri di Balik Nama Rokok Wismilak dan Dji Sam Soe

Cerita ini mungkin pernah didengar karena pernah dimuat oleh sebuah majalah gaib terkenal di Jakarta, ada beberapa kesamaan dari versi majalah tersebut dengan versi yang saya dengar langsung dari almarhum guru saya, berikut ulasannya.



Pada waktu kakek Gus Dur masih hidup, beliau menjadi seorang pemimpin sebuah ponpes di Jatim. Alkisah pada suatu hari datang sepasang suami istri keturunan Tionghoa bertemu beliau, maksud kdatangan mereka adalah hendak meminta "pesugihan" kepada kakek Gus Dur, mendengar hal tersebut marahlah para santri di ponpes tersebut, dengan sabar dan bijak kakek Gus Dur menenangkan para santrinya dan berkata kepada suami-istri tersebut, "Saya tidak mempunyai ilmu apa-apa, saya hanya memiliki ilmu agama, jikalau tuan mau, sempurnakanlah bacaan "Bismillah" pasal 5 sebanyak 234 kali". Mendengar hal tersebut suami-istri tadi mengiyakan karena mereka tetap menyangka bhwa dengan mengamalkan bacaan tersebut mereka akan bertemu "khodam" sang kyai tersebut (kakek Gus Dur) untuk meminta kekayaan. Seakan mengetahui hal tersebut kakek Gus Dur berkata kembali, "Apapun yang tuan lihat setelah mengamalkan bacaan tadi, JANGAN PERNAH TUAN MENYEMBAH SAYA TAPI SEMBAHLAH TUHANMU".
Singkat cerita pulanglah sepasang suami-istri tersebut, pada malamnya mereka mengamalkan bacaan tadi dan berharap apa yang akan terjadi.sewaktu dalam prosesi mewiridkan amalan tadi, mereka seakan-akan melihat kakek Gus Dur sedang merokok dihadapan mereka, melihat hal ini, sang istri berkata kepada suaminya, "Mungkin kita disuruh jualan rokok, pa", lalu si suami berkata kembali, "jualan rokok gimana, cara bikinnya aja aku gak tau, mungkin kyai tadi meminta kita untuk kasih rokok supaya kita akan diberi pesugihan untuk cepat kaya", tapi si istri tetap ngotot dengan pendapatnya, akhirnya terjadilah debat pendapat antara keduanya, ditengah-tengah perdebatan mereka muncul kembali bayangan kakek Gus Dur sambil merokok tapi kali ini dengan berkata, "Wah enaknya rokok ini, kalo orang lain mencobanya munkin banyak yang tertarik", selepas berkata tadi, bayangan tersebut lenyap seketika, akhirnya si suami sadar bahwa pendapat si istrilah yang benar.
Keesokan harinya, mereka belanja ke pasar untuk membeli tembakau, cengkeh dan bahan-bahan baku rokok lainnya. Dengan tekun mereka meracik, dan menjualnya dengan tetap mengamalkan bacaan yang diberikan oleh kakek Gus Dur tersebut. Singkat cerita mereka akhirnya sukses besar, mereka memang tidak pernah mengunjungi ponpes itu lagi. Bahkan setelah kepergian sang Kyai tadi, mereka juga tidak pernah sowan atau berkunjung. Hanya, semasa mereka hidup sebuah pemandangan aneh selalu terjadi di makam kakek Gus Dur tadi, yaitu suatu pemandangan dimana sepasang suami-istri keturunan Tionghoa yang selalu menangisi sebuah makam orang pribumi yaitu makam kakek Gus Dur tadi. Suami-istri inilah orang yang diceritakan pada kisah ini.
Makanya tidak heran keluarga Gus Dur sangat menghormati toleransi sebuah suku, agama dan ras (SARA).
Nah, kata "Bismillah" tadi jika didialekkan dengan logat orang keturunan Tionghoa menjadi "Wismillak" yang kelak menjadi sebuah nama rokok, begitu pula jumlah bacaan 234 kali tadi menjadi nama sebuah rokok, dan dibawah nama rokok 234 ini tertulis "fatsal 5" yang merupakan bagian dari amalan "Bismillah" tadi.
Demikian kisah ini saya ceritakan, tidak ada maksud mengkampanyekan "Ayo merokok", juga tidak ada maksud berbicara SARA (Saya banyak bicara hal tersebut pada kisah ini), tapi memang beginilah kisah yang terjadi. Mohon teguran dari sobat Narayana sekalian jika artikel ini ada indikasi SARA. Terimakasih. 
Semoga kisah ini semakin menambah wawasan sobat Narayana sekalian. (Berbagai sumber)

0 komentar:

 

PERSI Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger